BANGGA BERJAS KUNING

Dany Buyung Yudha Prasetya

Memberikan sambutan sebagai perwakilan mahasiswa Indonesia


Brrr..dingin banget”, itulah kalimat pertama yang dikatakan teman-teman rombongan program Jenesys Indonesia ketika keluar dari bandara Narita. Disambut suhu udara yang mencapai 3 derajat celcius kami menuju kota Chiba dengan menggunakan bus yang telah disediakan panitia JICE (Japan International Cooperation center).
Sesampainya di Chiba kami langsung mengikuti kegiatan orientasi yang dihadiri oleh perwakilan dari Kedubes Jepang, Kedubes Indonesia dan Presiden Direktur JICE.  Keesokan harinya dilanjutkan dengan jalan-jalan di Asakusa Nakamise (shoping street), dan dilanjutkan dengan kelas Bahasa Jepang di kantor JICE selama 5 jam.
Ketika jam bebas, saya mencoba keliling kota Tokyo dengan menggunakan kereta. Walaupun sudah membawa rute peta stasiun, tetapi akhirnya tetap bingung juga. Sistim transportasi di Jepang benar-benar rapi, dengan tersedianya informasi di stasiun maupun halte bus yang dapat memudahkan pengguna transportasi untuk menggunakanya. Serta petugas yang siap membantu ketika kita membutuhkan bantuan, dan tersedianya fasilitas khusus untuk orang yang berkebutuhan khusus seperti pengguna kursi roda.
Tak terlihat sampah yang berserakan di jalan. Macet dan bunyi klakson kendaraan bermotor pun hampir tidak ada. Tak sedikit orang yang berlalu lintas menggunakan sepeda dan berjalan kaki. Yang membuat saya penasaran adalah ketika melihat di sepanjang jalan terdapat jalan yang bergerigi, dengan bentuk bulat maupun memanjang dan berwarna merah maupun kuning, untuk apakah kegunaannya? Ketika melihat seseorang tunanetra yang berjalan menggunakan tongkat, saya baru sadar ternyata  tanda jalan itu disediakan untuk penyandang tunanetra yang bisa menuntunnya hingga ketempat yang dituju.
Hari ketiga rombongan kami menuju prefektur Yamanashi, tepatnya di kota Kofu. Kota Kofu adalah kota yang menjadi pusat pemerintahan salah satu Samurai legendaris Jepang, yaitu Takeda Shingen. Disana kami mengunjungi universitas Yamanashi Gakuin dan SMA Kofu Daiichi dan tempat pembudidayaan strawberry. Disana kami diajarkan bagaimana cara membudidayakan strawberry dan sekaligus memetik langsung strawberry dari pohonnya. Wow, strawberrynya berbeda dengan jenis strawberry yang pernah saya makan, besar sekali.
Ketika di Universitas Yamanashi Gakuin kebetulan saya ditunjuk sebagai perwakilan mahasiswa dari Indonesia untuk mengucapkan kata sambutan. Yang sangat berkesan bagi saya adalah dapat berbagi pengetahuan tentang beladiri Jepang kepada Mahasiswa club Judo universitas Yamanashi Gakuin. Ketika di SMA Kofu Daiichi pun saya mendapatkan kesempatan ditunjuk sebagai MC di acara ramah tamah sekaligus pengenalan budaya Indonesia selama 3 jam lebih. Setelah itu dilanjutkan dengan pengenalan ekstra kurikuler sekolah meliputi menulis kaligrafi (Shodo), Upacara Minum teh (Shado) dan pertunjukan acapela dari Siswa Kofu Daiichi. 

Bersama host family

Setelah itu kami dipertemukan dengan keluarga homestay masing masing, saya sempat shock karena tidak ada anak perempuan seumuran di keluarga homestay saya hahaha. Selama di rumah keluarga homestay, kami saling berdiskusi banyak hal mengenai budaya, sejarah maupun isu-isu agama yang sedang hangat terjadi. Pengalaman yang sangat berharga bagi saya karena dapat menambah wawasan saya. Saat-saat perpisahan dengan keluarga homestay pun, saya sempat menangis karena tak kuasa menahan haru untuk berpisah. Kebaikan mereka akan selalu saya kenang, dan juga kenangan bersama salah seorang siswa SMA Kofu Daiichi.

Labels: , , ,