Lulusan bahasa Jepang: Kesempatan dan Tantangan

Bagaimana menjadikan lulusan sarjana bahasa Jepang yang berkualitas
Menurut data survey yang dilakukan oleh JF (Japan Foundation) tahun 2009. Indonesia mengalami peningkatan yang cukup pesat untuk pembelajar bahasa Jepang dan Indonesia termasuk ke dalam 3 besar pembelajar bahasa Jepang terbanyak di dunia. Total pembelajar dari data di tahun 2009 adalah sekitar 716.353 orang. Dengan institusi pembelajaran sebanyak 1.988 institusi dan pengajar sejumlah 4.089 orang. Yang dimaksud pembelajar bahasa Jepang disini adalah para peserta pelatihan/kursus, siswa sekolah yang terdapat mata pelajaran bahasa Jepang, dan sumber-sumber lain yang terkait dengan pembelajaran bahasa Jepang selain Universitas/Pendidikan Tinggi.
Menurut survey tersebut juga, bahwa terdapat kurang lebih 113 institusi (Universitas atau sejenisnya) yang ikut menyelenggarakan pembelajaran bahasa Jepang. Dengan Jumlah mahasiswa sebanyak 17.976 orang.


Jika dilihat institusi setingkat universitas di Indonesia yang menyelenggarakan jurusan baik itu sastra Jepang ataupun pendidikan bahasa Jepang cukup banyak. Menurut Data dari Dikti tahun 2007, terdapat kurang lebih 59 institusi penyelenggara pendidikan bahasa dan sastra Jepang (D3/S1/S2/S3) di Indonesia.

Daftar Program Studi Sastra Jepang (Termasuk D3 Bahasa Jepang)

Daftar Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang

Begitu banyaknya institusi yang menyelenggarakan pendidikan bahasa dan sastra Jepang, sehingga dapat kita lihat jumlah lulusan dari masing-masing institusi tersebut setiap tahun akan terus meningkat. Jika saya asumsikan lulusan di setiap tahun kurang lebih 2000 orang. Maka tentunya lulusan bahasa Jepang akan bersaing ketat untuk memperebutkan lowongan kerja yang tentunya sesuai dengan bidang ilmu. Karena semakin lama, persaingan akan semakin ketat. Apa yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan daya saing kita di dunia kerja???

Akhir-akhir ini, dengan munculnya media sosial dan meningkatnya penggunaan internet di Indonesia. Sehingga dengan keuntungan tersebut informasi mengenai berbagai peluang kerja dapat dengan mudah didapatkan. Lowongan kerja bagi lulusan bahasa Jepang menurut saya cukup banyak, terbukti ada beberapa agen head hunter yang membuka jasa rekrutmen khususnya untuk perusahaan Jepang. Selain itu, banyaknya informasi lowongan dari media social seperti facebook dan lainnya. Membuktikan lulusan kita tidak kekurangan serapan tenaga kerja. Yang menjadi tantangan apakah kita mampu memenuhi kualifikasi yang ditetapkan oleh dunia kerja? sudahkan kita menguasai keilmuan kita secara mendalam? sudah mampukan kita bersaing secara kompetitif? jawabannya hanya pribadi kita sendiri yang bisa menjawab, karena pengembangan potensi diri tidak akan berjalan ketika tidak ada kemauan dari dalam.

Dengan ini, sangat diharapkan bagi pembelajar bahasa Jepang untuk dapat lulusan dengan mempunyai kualifikasi dan kriteria yang diharapkan oleh pangsa pasar. Jangan hanya sekedar berharap untuk lulus menjadi seorang sarjana saja. Tapi lulusan diharapkan dapat memperluas atau meninggikan kualifikasi dirinya sendiri, sehingga bukan dia yang mencari peluang kerja tapi dia yang dicari dimana-mana.

Harapan saya, dengan data-data yang dihadirkan di atas, dengan prospek peluang bagi lulusan bahasa Jepang yang masih banyak. Kita tidak hanya cukup puas dengan mengantongi ijazah Sarjana/D3 saja. Tetapi harus bisa meningkatkan kualitas diri untuk bersaing dengan orang lain di dunia kerja. Apa yang bisa kita lakukan dari sekarang untuk meningkatkan potensi diri??
  1.  Aktiflah di kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi keilmuan (lomba-lomba, kompetisi, pelatihan, dll)
  2. Ambil setiap kesempatan semasa kuliah walau sangat kecil (misal seleksi beasiswa, baik intern maupun eksternal. Percayalah, ketika kalian lulus banyak dari kesempatan beasiswa itu hangus seiring bertambah umur. Selagi masih berkuliah, kejarlah semua kesempatan itu. Diterima atau tidak, itu masalah nantiā€¦ yang penting berani mencoba dan mengambil kesempatan.
  3.  Kembangkan kemampuan dari hobby (suka dengan anime, dorama, j-culture? Pahami dan telaah lebih dalam daripada hanya alur ceritanya, bisa kebudayaan, kebahasaan, kesusasteraan, dst).
  4.  Berkenalan lebih dekat dengan Mbah Google yang rumahnya di Dunia Maya, ketika kita tidak tahu tentang sesuatu, bingung, tidak ada inspirasi, tanyalah dia. Gunakan Internet lebih dari hanya sekedar update status di Facebook dan Twitter.

Pendapat seperti ini hanya pendapat pribadi dengan melihat beberapa data yang berasal dari berbagai sumber dan bukan merupakan kajian ilmiah. Jika ada para pembaca yang mengkaji masalah tersebut mungkin bisa berbagi pengetahuan disini..(LN)

Pendidikan Bahasa Jepang
Universitas Negeri Semarang

Labels: