Pentingnya Renraku (melakukan kontak) dalam Budaya Jepang

Sharing pengalaman saja.
Oleh: Ai Sumirah Setiawati
Peribahasa Jepang mengatakan go ni haireba go ni shitagae artinya kita harus mematuhi adat istiadat tempat yang kita tinggali atau datangi. Peribahasa ini sepadan dengan peribahasa bahasa Indonesia yang berbunyi di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Peribahasa ini berlaku terhadap siapa saja yang masuk atau tinggal di Jepang. Ketika kita memasuki wilayah kebudayaa Jepang baik di Jepang sendiri atau rumah orang Jepang di Indonesia kita harus berusaha untuk menyesuaikan diri dengan adat istiadat mereka misalnya membuat appointment terlebih dahulu ketika kita hendak mengunjungi rumah orang Jepang. Dengan kata lain kita harus melakukan renraku terlebih dahulu.
Kebiasaan melakukan renraku ini dapat kita lihat dalam berbagai situasi dalam kehidupan berinteraksi dengan orang Jepang. Misalnya ketika mendapat undangan pesta, ketika meminta ijin tidak masuk kerja, dan lain-lain.
Berbagai Kasus Salah Faham Terhadap Kebiasaan Renraku
1. Terlambat dalam sebuah appointment
Pada tahun 1999, saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti program Japanese Studies atau Nihongo Nihonbunka Kenshuu Puroguramu. Program ini saya ikuti dari 4 Oktober 1999 sampai 31 September 2000 di Hiroshima University atau terkenal dengan sebutan Hirodai. Sesuai dengan nama programnya, di sana saya belajar mengenai bahasa dan budaya Jepang.
Selama mengikuti program ini saya dibimbing oleh seorang advisor atau shidoukyoukan. Setiap satu minggu satu kali saya mengadakan pertemuan dengannya baik untuk mengkonsultasikan apa yang saya teliti di sana maupun kegiatan pemantauan kemajuan kemampuan bahasa Jepang saya. Setiap akan bertemu pasti saya membuat appointment mengenai waktu dan tempat bertemu.
Suatu ketika saya mempunyai janji bertemu dengan sensei untuk membicarakan laporan penelitian. Waktu itu saya tidak punya printer sendiri di apartemen, kemudian di lab komputer yang diperuntukkan bagi mahasiswa seperti saya di Ryuugakusei Sentaa tidak disediakan kertas. Sebelumnya pihak universitas menyediakan kertas untuk mencetak tapi karena banyak ryuugakusei yang menggunakanya untuk hal-hal yang tidak berguna sehingga banyak kertas bekas yang tidak terpakai dan akhirnya terbuang percuma, akhirnya pihak universitas mengeluarkan kebijakan bahwa mahasiswa yang akan mencetak data atau apapun harus membawa kertas sendiri.
Karena laporan yang saya buat baru selesai pagi hari bertepatan dengan hari yang telah ditentukan dan tidak memungkinkan saya untuk membeli kertas terlebih dahulu, saya mencetak hasil laporan di IDEC (graduate school for International Development and Corporation) yaitu sebuah divisi tempat belajar mahasiswa pasca sarjana internasional. Saya bisa masuk ke sana dengan bantuan seorang teman dari Malaysia.
Singkat cerita saya selesai mencetak laporan untuk bahan diskusi dengan sensei. Tapi berhubung IDEC agak jauh dari ryuugakusei sentaa tempat janjian dengan sensei, saya kesiangan sekitar 25 menit. Waktu itu saya tidak menelepon sensei untuk memberitahukan keterlambatan dengan maksud nanti saja langsung meminta maaf ketika bertemu.
Ketika saya sampai di ruang sensei, saya minta maaf atas keterlambatan tersebut. Sensei menerima permintaan maaf saya dengan wajah yang menunjukkan kemarahan kemudian menegur saya mengapa tidak menelepon dia waktu saya masih di jalan. Kemudian dia bertanya mengapa saya sampai terlambat, dia marah lagi ketika tahu kalau saya mencetak laporan di fakultas lain yang sebenarnya saya tidak berhak menggunakan fasilitas di sana.
Selama hamper 30 menit saya diberi peringatan atas kesalahan-kesalahan tersebut sebelum akhirnya mendiskusikan masalah laporan yang sedang saya buat. Saya tidak menyangka bahwa orang Jepang sampai begitu detilnya terhadap sebuah appointment. Hal ini berbeda dengan kebiasaan saya waktu di Indonesia.
2. Memberitahukan hendak pergi berlibur
Sebagai pelajaran budaya Jepang, kami para peserta program diberi kesempatan untuk melakukan arubaito ‘kerja paruh waktu’ di universitas tersebut. Pekerjaan kami sangat mudah yaitu hanya membersihkan lab komputer dan lab bahasa yang biasa kami gunakan. Karena jumlah peserta semuanya 12 orang sedangkan yang bisa mendapatkan kesempatan arubaito hanya dua orang saja, kami dipilih secara kujibiki ‘lotre’ siapa saja yang berhak ikut arubaito tersebut yang dilaksanakan dalam dua periode. Setiap periode dua orang dari peserta mengikuti kegiatan ini. Kegiatan ini seperti halnya kalau bekerja paruh waktu di luar, kami juga mendapat upah yang jumlahnya lumayan lebih besar dibandingkan dengan upah arubaito di luar. Pada periode kedua kegiatan ini, kebetulan saya mendapat giliran. Setiap akhir pekan kuliah atau hari jum’at saya membersihkan kedua lab tersebut.
Suatu ketika, jadwal arubaito tersebut bersamaan dengan hari libur. Saya boleh mengganti hari kerja kalau ingin pergi berlibur asal memberitahu kepada penanggung jawab program itu.
Saya waktu itu berencana pergi ke Kyoto untuk bertemu teman satu kelas waktu kuliah di Indonesia selama satu minggu. Sebelum berangkat saya menelpon sensei yang menjadi penanggung jawab program arubaito tersebut. Saya menelepon dia sehari sebelum saya berangkat ke Kyoto. Sensei yang saya telepon tidak mengindikasikan kalau dia tidak berkenan dengan telepon atau renraku yang saya lakukan pada saat yang mepet dengan waktu keberangkatan.
Keesokan harinya saya berangkat ke Kyoto setelah mendapat ijin dari sensei. Tetapi, ketika saya kembali ke kampus dan bertemu dengan advisor, saya kembali mendapat teguran. Dia menegur saya karena memberitahukan masalah rencana berlibur dan meninggalkan pekerjaan tidak jauh-jauh hari sebelumnya. Di samping itu dia kembali mengungkit kesalahan saya ketika datang terlambat.
Selain malu saya juga heran mengapa cara berpikir orang Jepang dalam hal ini sangat rumit. Tapi, sesuai dengan peribahasa yang telah saya sebutkan di atas saya harus mengikuti kebiasaan tersebut. Sejak mendapat teguran saya selalu datang tepat waktu. Sebenarnya sebelum kejadian itu saya selalu datang tepat waktu baik pada waktu masuk kuliah atau ada janji konsultasi dengan sensei.
Anehnya, setelah kejadian itu malah sensei yang sering tidak memenuhi janji. Sering saya dibuat menunggu karena sensei menerima tamu lain pada waktu yang bertepatan dengan waktu yang telah kami janjikan. Saya fahami sikap dia seperti yang pernah saya pelajari bahwa orang Jepang itu sekali kita berbuat cela maka selamanya kita tidak akan dipercaya lagi. Tapi saya pikir aneh kalau sampai sikap dia sering menelantarkan janjinya dengan saya gara-gara kejadian tersebut.
3. Budaya Renraku di Jepang
Renraku di Jepang sangat erat sekali kaitannya dengan kehidupan sehari bermasyarakat maupun bekerja. Berikut adalah contoh beberapa situasi yang melibatkan kebiasaan orang Jepang dalam melakukan renraku.
a. Meminta ijin tidak masuk kuliah
Apabila kita kuliah atau bekerja di Jepang dan suatu saat tidak bisa masuk dengan berbagai alasan, kita wajib memberitahukannya kepada pihak sekolah atau universitas atau tempat kerja. Yang unik dari kebiasaan ini adalah apabila kita sakit kemudian kita menelepon pihak kantor untuk memberitahukan kalau kita tidak bisa masuk kerja karena sakit. Renraku yang kita lakukan tidak hanya cukup satu kali saja ketika kita baru terkena sakit.
Apabila tidak ada surat dokter yang menyatakan kita harus istirahat dalam jangka waktu tertentu, kita harus melakukan renraku lagi pada hari-hari berikutnya apabila kita masih belum bisa masuk kerja. Banyak orang asing yang bekerja di Jepang termasuk orang Indonesia yang beranggapan bahwa apabila sudah memberitahu sekali kalau kita sakit dan hari-hari berikutnya kita masih belum masuk kerja berarti kita masih sakit. Pihak kantor pun akan memahaminya demikian. Tetapi dalam hal ini budaya Jepang berbeda.
b. Membuat janji
1) Ketika hendak berkunjung ke rumah orang lain
Di Indonesia sering kali kita melakukan kunjungan ke rumah orang lain bahkan ke tempat kerja tanpa membuat janji terlebih dahulu. Meskipun demikian dalam budaya Indonesia, orang masih mau menerima kedatangan tamu tersebut kecuali hal ini tidak berlaku bagi pejabat yang jadwalnya sangat padat.
Kebiasaan ini sedikit demi sedikit sudah mulai berubah, yaitu orang Indnesia juga cenderung melakukan renraku untuk membuat janji terlebih dahulu.
Di Jepang, apabila kita tiba-tiba datang ke rumah atau tempat kerja orang lain tanpa membuat janji terlebih dahulu, tuan rumah bisa saja tidak menerimanya.
2) Ketika hendak berkonsultasi dengan dosen pembimbing
Begitu pula halnya ketika kita hendak berkonsultasi atau ada perlu dengan guru atau dosen pembimbing, sebelumnya kita harus membuat janji terlebih dahulu.
Hal ini dilakukan untuk menghindari kedatangan kita yang sia-sia karena ternyata ketika kita hendak bertemu dengan sensei, dia sedang menerima tamu lain.
Kebiasaan ini erat kaitannya dengan kebiasaan orang Jepang yang melakukan segala sesuatu dengan terencana.
3) Ketika hendak melakukan kunjungan ke sekolah
Seorang mahasiswa asing yang belajar di Jepang hendak melakukan observasi ke suatu sekolah harus melakukan beberapa kali kunjungan sebelum sampai pada tahap membuat janji akan datang ke sekolah tersebut untuk melakukan observasi.
Kunjungan pertama adalah tahap perkenalan. Untuk melancarkan urusan kita bisa meminta tolong kepada sensei kita agar dia menyertai perkenalan kita dengan pihak sekolah.
Pada tahap perkenalan ini kita memperkenalkan diri yaitu dengan menyebutkan asal negara kemudian menginformasikan tempat belajar kita di Jepang. Setelah itu kita juga menceritakan tentang penelitian yang sedang kita lakukan yang ada hubungannya dengan sekolah tersebut.
Apabila sudah terjalin suatu komunikasi yang baik, baru kita dapat membuat janji kapan kita boleh melakukan observasi tersebut.
c. Hadir atau tidak dalam suatu event atau pesta
Di Jepang, apabila kita mendapat undangan dalam suatu kegiatan atau pesta, kita juga pasti menerima selembar kartu pos yang isinya apakah kita akan hadir atau tidak dalam acara tersebut. Apabila kita sudah mengirim kembali kartu pos tersebut dan menyatakan akan hadir, kita harus mematuhinya begitu juga sebaliknya.
Kebiasaan ini harus kita patuhi karena biasanya orang Jepang menyiapkan acara atau pesta sesuai dengan jumlah tamu yang akan hadir. Dan satu hal yang harus diperhatikan juga yaitu jangan pernah datang ke suatu acara dengan membawa teman apalagi keluarga apabila mereka tidak ikut diundang.
Simpulan
Stereotype mengenai orang Jepang adalah orang atau bangsa yang sangat menghargai waktu, disiplin dalam segala hal, workaholic dsb. Sifat-sifat demikian menjadikan orang Jepang selalu terencana dalam melakukan segala kegiatan termasuk dalam menerima tamu.
Kita tidak bisa dengan seenaknya berkunjung ke rumah atau tempat kerja orang Jepang tanpa membuat janji terlebih dahulu. Apabila kita mendapat undangan baik acara umum maupun pesta kita diminta untuk mengirimkan kartu pos mengenai kesediaan kita menghadiri acara tersebut. Apabila kita sudah menyatakan akan hadir atau sebaliknya kita harus mematuhinya.
Pengetahuan dan pemahaman akan budaya Jepang sangat penting bagi orang-orang asing yang akan memasuki wilayah orang Jepang. Tetapi kadang pengetahuan tersebut masih saja kurang karena banyak hal-hal kecil yang tidak kita ketahui yang menimbulkan benturan budaya.


Daftar Rujukan
Go ni Haireba Go ni Shitagae toiuno wa Eigo ni Suruto Dounarimasuka. Tersedia [online] http://detail.chiebukuro.yahoo.co.jp [12 Juni 2008]
Kekkonshiki – Shusseki no Hagaki o Dashita Ato no Kesseki Houkoku. Tersedia [online] http://oshiete1.goo.ne.jp/qa2403702.html [12 Juni 2008]
Kekkonshiki Kesseki Manaa no Shusseki Hagaki o Henshin shitanoni Kesseki o suru toki. Tersedia [online] http://kekkon.sumaikaiteki.com. [12 Juni 2008]

3 Responses to "Pentingnya Renraku (melakukan kontak) dalam Budaya Jepang"

  1. banyak hal yang bisa kita ambil contoh meski tidak smuanya...

    ReplyDelete
  2. Saya perlu banyak belajar mengenai kebiasaan baik orang Jepang. Sensei, terima kasih info dan pengalamnanya.

    ReplyDelete